Tampilkan postingan dengan label Aneka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aneka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2009

Eksakta Minus Derita

Menyulap rumus dan teori matematika, fisika, dan pelajaran eksakta lainnya menjadi komik yang menyenangkan agar anak sekolah lebih paham pelajaran.

Abu paling benci pelajaran matematika. Karenanya, saat berdarmawisata ke museum dan gurunya mulai bercerita soal sejarah angka-angka, Abu langsung kabur memisahkan diri dari rombongan. Belum sempat ia bernafas lega tiba-tiba saja kaca di atap museum pecah berhamburan. Seorang pria terjatuh dari atap disusul seorang bersorban hijau, yang langsung memanggil seekor naga besar.

Ini naga matematika, dia hanya memakan jawaban matematika, kalau kau tidak bisa menjawab dia akan memakanmu," ujarnya. Abu harus cepat memberitahukan kepada naga angka terakhir yang diciptakan manusia. Jika tidak, naga bergigi besar dan runcing itu akan melahapnya.Inilah adegan pembuka buku komik berseri Asyik Belajar Matematika volume 1: Thales dan Misteri Piramida. Komik ini dibuat Kim Rin dengan ilustrasi yang dikerjakan oleh Biwon Studio. Versi Indonesia diterbitkan Bhuana Ilmu Populer.
Sosok Abu sebenarnya cerminan dari masa kecil Kim. Ia melihat ke masa lalu dan menemukan dirinya juga tak terlalu pandai dalam pelajaran matematika. “Saya teringat semasa kecil dulu, nilai matematika saya selalu jelek,” ujar Kim. Meski kesulitan dalam pelajaran itu, Kim mengingat dirinya selalu senang jika berhasil menyelesaikan soal-soal yang pelik. Kenangan itu membuatnya ingin membuat komik tentang matematika. Awalnya memang tak mudah lantaran ia harus membaca lagi semua buku pelajaran yang pernah membuatnya pusing tujuh keliling.
Karena melihat kisah petualangan dan sihir bisa menarik minat pembaca muda, Kim menyusun ceritanya dengan tema petualangan dengan tokoh yang jenaka dan menghibur. Ia pun memilih seting waktu di era Mesir dan Yunani kuno, ketika ahli matematika dianggap sebagai ahli sihir karena bisa mengukur lebar sungai tanpa menyeberanginya atau mengukur tinggi piramida tanpa memanjat ke puncaknya.
Gaya bercerita Kim tak kering karena ia rajin memberi ornamen kisah sejarah yang menyertai sebuah teori matematika. Saat bicara soal Phytagoras, misalnya, ia tak cuma bicara rumus menghitung sisi miring segitiga pada teorema Phytagoras tapi juga menceritakan perguruan matematika yang didirikan Phytagoras. Diceritakan betapa perguruan itu mirip perkumpulan rahasia agar temuan teori mereka tak bocor dan dicontek ahli lain.
Editor Bhuana Ilmu Populer, Deesis Edith M., menilai gaya bercerita itulah yang menjadi kelebihan komik buatan Kim. Ia melihat ada banyak hal yang diangkat Kim seputar sebuah teori atau rumus matematika yang tak pernah diajarkan di sekolah. “Ini membuat belajar matematika tak lagi kaku dan hanya penuh kegiatan menghafal rumus-rumus,” ujarnya.
Asyik Belajar Matematika merupakan salah satu judul dari serial Educomics yang mulai diterbitkan Bhuana Ilmu Populer sejak Mei 2006. Saat itu mereka menemukan manwha --sebutan komik di Korea --tentang sains buatan komikus Korea Selatan yang penuh warna dengan cerita dan karakter yang jenaka.
Deesis menjelaskan salah satu fokus perusahaannya adalah pada tema anak dan pendidikan. Begitu menemukan komik soal ilmu pengetahuan yang menghibur dan menarik buat anak, mereka langsung membeli hak terbitnya. Melihat pasar komik yang besar dan jarangnya komik yang bertema ilmu pengetahuan, Bhuana yakin komik sains akan diminati khususnya di kalangan siswa SD dan SMP yang menjadi target pasar utama.
Menurut Deesis, Bhuana cukup repot menerjemahkan komik asal negeri ginseng ini. Selain sulit mencari penerjemah, ada juga bagian-bagian cerita yang mesti diakali karena perbedaan budaya, misalnya penyebutan jenis makanan yang tak dikenal di Indonesia.
Harga "educomics" ini ada di kisaran Rp 30 ribu hingga Rp 70 ribu. Harga ini jauh melampaui komik-komik Jepang yang di bawah Rp 15 ribu. Ini lantaran ukuran bukunya lebih besar dan formatnya full color. Menurut Deesis, pihaknya mempertahankan format asli komik dari negara asalnya. Gambar yang penuh warna itu, katanya, akan lebih menarik perhatian anak.
Ternyata reaksi pasar sesuai harapan. Buku dalam serial "educomics" ini rata-rata terjual lebih dari 20 ribu eksemplar bahkan memasuki tahun ketiga ini pun mereka terus mencetak ulang setiap judulnya. Karena pasar berminat pada komik jenis ini, Bhuana yang sudah menerbitkan lima nomor Asyik Belajar Matematika akan meneruskan hingga nomor ke delapan.
Mereka juga melengkapi seri judul itu dengan lima nomor seri komik sains 3 Menit Belajar Pengetahuan Umum. Komik buatan penulis Kim Seok-Ho dan ilustrator Kim Seok-Cheon ini berbentuk komik strip dua halaman tentang sains. Komik berwarna ini menampilkan tokoh siluman kecil Ding Dong yang tinggal bersama Paman Penyihir di Desa Siluman. Ada pula si pinguin, Pinggu; dan Buxi dari Afrika yang tinggal berdekatan dengan Ding Dong.
Selain dua komik Korea ini masih ada juga serial Kyu Li. Salah satunya yang sudah diterbitkan Bhuana adalah petualangan Kyu Li dengan pangeran drakula yang menceritakan soal golongan darah. Lalu ada juga komik grafis Ilmuwan Super Max Axiom karya Emily Sohn yang ilustrasinya dibikin oleh Steve Erwin dan Charles Barnett III. Ada 12 seri belajar fisika, geografi, dan biologi bersama Max Axiom yang mampu mengecil sampai ukuran atom, berkacamata sinar-X, dan jas laboratorium yang membuatnya bisa bepergian menembus ruang dan waktu.
Menurut Deesis, Bhuana sengaja memilih komik sains yang menampilkan penjelasan ilmiah terhadap hal-hal yang bisa dilihat dan dijumpai dalam keseharian anak. Ia berharap dengan pengemasan yang menarik ini anak tak keburu alergi melihat pelajaran matematika atau sains. “Lewat buku-buku ini anak bisa melihat matematika dan sains itu sebenarnya menyenangkan untuk dipelajari,” kata Deesis.
Setali tiga uang dengan komik matematika, versi sains pun tidak kurang peminatnya. Buku-buku ini membanjiri rak-rak buku anak. Jika sebelumnya buku sains populer berbentuk ensiklopedia ringan dan menyasar pembaca prasekolah, maka kini karya-karya ini datang dalam bentuk cerita yang lebih serius dan membidik siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah.
Jeremi, 10 tahun, termasuk yang sangat menyukai komik-komik sains. Menurutnya, buku-buku ini asyik dibaca. “Ceritanya lucu, pengetahuannya juga banyak,” ujarnya.
Berbeda dengan buku paket sekolah yang bikin jenuh, ia justru masih mengingat banyak isi komik itu. Asyiknya lagi, siswa kelas lima sekolah dasar ini sering terbantu dalam memahami pelajaran di sekolah berkat baca komik sains. “Kalau jam istirahat di perpustakaan biasanya berebut komik sains soalnya cuma ada sedikit,” kata dia.
Besarnya minat terhadap komik sains populer ini juga membuat fisikawan Yohannes Surya memakai pendekatan komik dalam mengenalkan sains kepada anak. Ilmuwan yang getol mendorong anak Indonesia agar mengikuti Olimpiade Fisika ini mengajak Megindo menerbitkan komik. Bedanya dengan komik sains Bhuana, ini asli Indonesia.
Yohanes bersama Li Indra Julian menciptakan karakter Archi & Meidy --komik ini meminjam nama Archimedes, ilmuwan Yunani kuno. Agar anak-anak senang, komik yang mulai terbit pada 2002 ini disajikan dengan bumbu jenaka.
Mizan pun pernah menerbitkan serial Komik Anak Sekolah yang berisi pembahasan fisika dan matematika. Salah satunya adalah Tahu Banyak Tahu: Keajaiban Suara, yang dibuat Ana Dewiyana. Komik sains ini bercerita tentang petualangan dua bocah, Fudena dan Manawe, dalam gua yang akhirnya membuat mereka lebih paham soal suara dan pantulan suara.
Pendekatan komik dipandang Manajer Redaksi Buku Anak dan Remaja Mizan Pustaka Benny Rhamdani memang paling pas untuk anak masa kini. “Anak sekarang sangat menyukai komik jadi memang yang paling pas dalam bentuk ini,” ujarnya.
Menurut Benny, pada awal 2005 ia banyak mendengar keluhan orangtua soal anaknya yang lebih suka komik ketimbang belajar. Benny bersama timnya lantas mempelajari keluhan ini dan menemukan di Jepang dan Korea komik justru dijadikan alat bantu dalam mengajarkan pelajaran, khususnya soal sains. Mizan lantas meluncurkan belasan judul Komik Anak Sekolah yang ternyata mendapat respon cukup baik. Setiap judul komik sains dan matematika tersebut rata-rata terjual hingga lebih dari 10 ribu eksemplar.
Namun dalam dua tahun terakhir Mizan menyetop penerbitan Komik Anak Sekolah. Penghentian itu, kata Benny, demi mengatur ulang strategi menghadapi manwha yang punya gambar menarik dan berwarna. Sementara komik sains Mizan masih hitam-putih.
Benny mengatakan dari pengkajian ulang itu Mizan kini menyiapkan serial Komik Bikin Pintar dengan format berwarna. “Gambarnya juga kami buat lebih menarik buat anak,” ujarnya.
Seri komik ini rencana baru akan terbit pertengahan tahun ini. Menurut Benny, meski bentuknya komik, Mizan tetap menganggapnya buku pelajaran. Karena itu lebih pas jika diluncurkan menjelang tahun ajaran baru.
Gelombang komik sains ini perlahan menenggelamkan model buku sains populer yang hanya memakai gambar sebagai ilustrasi dan didominasi penjelasan dalam bentuk tulisan. Buku-buku ini sempat membanjiri pasar pada 2003. Sebut saja seri Einstein Aja Ingin Tahu, terbitan Scientific Press. Kala itu buku sains populer berjudul asli How Come? itu belum menyajikan sains yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Penulisnya, Kathy Wollard dan Debra Solomon, menjadikan gambar hanya sekedar ilustrasi tambahan. Mereka membahas langsung masalah-masalah sains seperti tentang planet dan atom.
Kian renyahnya tampilan buku-buku sains memang mendukung upaya pengenalan "ilmu-ilmu berat" ini pada anak. Guru besar ilmu kimia University of Pittsburgh, Robert L. Wolke --penulis buku Einstein Aja Gak Tau!-- berpendapat sains sebenarnya menarik namun ada kelemahan besar yang selama ini ada pada pendidikan sains.
“Buku-buku sains di sekolah sering tidak disajikan secara menarik,” ujarnya. “Orang yang semula tertarik pun belakangan jadi kurang berminat,” ujarnya. Kalau sudah begitu, bagaimana mau berharap bisa mencetak banyak Einstein di masa depan?

Selanjutnya....

Komik Jadi Sain Lebih Menyenangkan

Saat ini pelajaran matematika dan sains masih merupakan pelajaran yang menakutkan bagi banyak siswa, karena biasanya kedua pelajaran ini disajikan dalam bentuk tulisan yang memerlukan ketajaman nalar karena banyak hal yang bersifat abstrak. Sehingga hanya anak-anak

yang berkategori cerdas yang bisa memahaminya, sedangkan anak-anak berkategori biasa saja, yang cenderung lebih menyukai hal-hal yang bersifat kongkret, akan lambat memahami kedua pelajaran ini. Akibatnya, nilai yang diperoleh pada pelajaran matematika dan Sains tidak bagus. Hal ini akan menambah ketidaksukaan siswa, bahkan sampai pada tingkatan membencinya. Selain itu, para guru mengajarkan materi matematika dan sains biasanya kurang menarik, sehingga menambah terpuruknya minat siswa terhadap kedua pelajaran ini.

Adanya komik matematika dan sains populer bisa mengubah keadaan ini Tampilan gambar yang menarik dan dialog yang terkadang jenaka akan membuat siswa tertarik untuk membaca sekaligus mempelajarinya. Hal itu pun terjadi dalam pada seorang teman yang mempunyai anak yang masih berumur tiga tahun. Teman saya bercerita bahwa sejak dia membeli beberapa komik matematika dan sains populer, putrinya sering minta diceritakan tiap lembar dari komik tersebut. Hal ini karena lembaran-lembaran tersebut berisi gambar-gambar yang lucu dan berwarna-warni, sehingga putri yang masih balita tersebut tertarik untuk terus mengamati dan akhirnya minta diceritakan.

Lembaran-lembaran yang sebenarnya berisi pengetahuan tentang sains menjadi mudah dipahami, walaupun oleh anak yang masih sangat muda, dan tanpa terasa pengetahuan tentang sains sedikit demi sedikit sudah masuk ke dalam otaknya. Satu hal yang membuat teman saya yang berasal dari Jawa Barat itu bahagia adalah ketika ditanya "Apakah teteh menyukai matematika?", sang putri menjawab, "Teteh suka matematika". Hal ini tentu salah satunya akibat pengaruh komik matematika dan sains.

Saya berpikir tentunya anak yang jauh lebih tua akan sangat mudah memahami ini. Ternyata pemikiran saya benar, karena keponakan saya yang masih duduk di bangku Kelas 2 Sekolah Dasar mempunyai banyak buku matematika dan sains populer. Dia sangat tertarik dengan kedua pelajaran tersebut. Hal ini terbukti dengan nilai yang bagus di pelajaran tersebut. Menurut orang tuanya, yang merupakan kakak saya, minat keponakan saya tinggi terhadap kedua pelajaran tersebut karena terbantu dengan adanya komik-komik matematika dan sains yang saat ini sudah mulai banyak di pasaran.

Sebenarnya buku komik matematika dan sains populer tidak hanya membuat anak menjadi tertarik dengan kedua pelajaran tersebut, tetapi juga menggiring anak untuk terbiasa bernalar dengan memahami dialog-dialog yang ada serta belajar mengambil kesimpulan dari dialog-dialog yang terjadi. Dampaknya adalah daya nalar anak akan terlatih dan kemampuan anak memahami suatu masalah menjadi semakin cepat. Sehingga dampak dari adanya komik-komik ini selain meningkatkan minat anak, juga meningkatkan kecerdasan.

Kebetulan saat ini profesi saya sebagai seorang pelatih Olimpiade Matematika Nasional Tingkat Sekolah Dasar. Pada waktu istirahat di masa karantina Olimpiade, tak jarang saya melihat anak-anak peserta Olimpiade sedang sibuk membaca komik matematika dan sains sambil tertawa dengan temannya. Mereka mengatakan, komik ini penghilang stres setelah mereka pusing menghadapi soal-soal matematika yang demikian sulit, karena dalam komik tersebut banyak hal yang lucu-lucu.

Selain di karantina, tak jarang saya melihat anak-anak peserta Olimpiade sibuk membaca komik saat di pesawat ketika akan menuju lokasi lomba di negara lain. Saya simpulkan komik ini sudah menjadi penambah pengetahuan sekaligus hiburan bagi mereka dan tidak lagi untuk meningkatkan minat dalam pelajaran tersebut, karena sudah pasti mereka adalah anak-anak yang mencintai pelajaran matematika dan sains.

Komik matematika dan sains ternyata mampu membuat orang tua sadar bahwa ternyata kedua pelajaran ini bukanlah merupakan pelajaran yang sulit. Teman saya bercerita, ketika dirinya menceritakan lembar demi lembar komik matematika dan sains kepada kepada putrinya, sang putri begitu mudah memahami. Sehingga dia berkomentar, "Seandainya guru saya dulu mengajarkan kedua ilmu ini dengan cara seperti ini, tentulah akan banyak anak akan mencintai ilmu ini". Saya sangat sependapat dengan komentar tersebut, tetapi sayang waktu tidak bisa berulang, sehingga pencitraan pelajaran matematika dan sains sebagai pelajaran yang sulit masih ada pada benak-benak orang tua di generasi saya, bahkan mungkin generasi di atas dan di bawah saya.

Seorang teman saya yang merupakan guru sains yang banyak mengkoleksi komik matematika dan sains berpendapat bahwa dengan membaca komik-komik ini, pengajaran sains menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Dampaknya, beliau menjadi guru favorit di sekolahnya, bahkan sekarang profesinya bertambah menjadi pembina olimpiade sains di kotanya. Hal ini karena kesenangannya mentransfer pengetahuan tentang sains kepada siswa dengan penyajian seperti komik-komik yang dia miliki, sehingga pembelajaran di kelas lebih komunikatif dan menyenangkan.

Saya berpikir bahwa era pencitraan pelajaran matematika dan sains merupakan pelajaran yang sulit akan segera berakhir seiring dengan semakin tersebarnya komik matematika dan sains populer di Indonesia. Hal ini karena timbulnya kesadaran dari semua komponen pendidikan, baik siswa, orang tua maupun guru, bahwa matematika dan sains bukanlah pelajaran yang sulit setelah mereka sering membaca komik-komik matematik dan sains. Sehingga tidak dalam waktu yang lama Indonesia akan menjadi negara yang maju karena kecintaan masyarakatnya dalam kedua bidang ilmu tersebut.

Saya sendiri gemar mengoleksi komik matematika dan sains, termasuk koleksi lengkap 3 Menit Pengetahuan karya Kim Seok. Yang perlu pula dicatat dari kehadiran komik semacam ini adalah harganya masih terbilang mahal, sehingga tak semua orang tua mampu membelikannya untuk putra-putrinya.

Pada titik ini, barangkali peran pemerintah diperlukan dalam penyediaan komik sains bagi masyarakat. Syukur-syukur bila pemerintah dapat, misalkan, membeli hak cipta sebuah komik sains sehingga masyarakat dapat mengunduhnya dari situs Departemen Pendidikan Nasional, seperti yang dilakukan pemerintah terhadap beberapa buku pelajaran. Akan lebih baik lagi bila komik tersebut dicetak massal dan disebarluaskan ke seluruh sekolah. Dengan cara-cara semacam ini saya yakin bahwa kecintaan terhadap matematika dan sains akan segera menyebar ke seluruh Nusantara hingga ke pelosok-pelosok desa nun jauh di sana.

Selanjutnya....

Minggu, 12 April 2009

Mencintai Anak Autis - Rindu Pelukan (Bagian 2.habis)


Hal ini disadari betul pasangan Amat dan Zubaidah yang memilik anak penderita sindrom autistik, Jihad Bagas Cakra (13).

Agar anaknya tak terkucil, pasutri ini memasukkan Bagas ke TK umum. Tentu saja Ida lebih dulu berkoordinasi dengan guru dan teman-teman Bagas. Termasuk, memberi jaminan bahwa apa pun peralatan yang dirusak Bagas akan ia ganti karena memang demikianlah kondisi anaknya.

“Walau bukan miliknya, Bagas tidak peduli. Apa yang ada di depannya, prinsipnya itu punya dia. Untunglah guru, teman-teman, dan walimurid yang lain sudah paham itu dan malah ngemong Bagas. Teman-temanya selalu cerita ke saya, ‘Tante, penggarisku dipatahkan Bagas’, ‘Tante, crayonku dirusak Bagas’. Saya tidak pernah marah, justru saya senang semuanya bisa diajak koordinasi untuk kemajuan anak saya,” tambah Ida yang memang mengaku menjadi orang tua istimewa karena dikaruniai anak yang istimewa.

Bagi Zubaidah, sindrom autistik yang diderita anaknya bukanlah rahasia. Malah, dia selalu menjelaskan tentang keadaan anaknya. Dia yakin sindrom autistik bukan kartu mati.
Sindrom ini hanya membuat penderitanya merasa tidak butuh apa pun. ”Kami menggiringnya bahwa dia butuh teman, butuh komunikasi. Kalau dia banyak input, maka output juga banyak,” kata Zubaidah.

Maka, pontang pantinglah dia seperti orang gila. Setiap informasi apa pun, termasuk produk-produk tertentu, logo-logo tertentu, lambang negara-negara dan lainnya, dia gunting dan dia kenalkan pada Bagas berulang-ulang.

Kini, semua tinggal kenangan. Bocah istimewa itu kini tumbuh remaja. Ketabahan dan keteguhan keluarganya membuat Bagas menjadi manusia mandiri yang mampu mengatur dirinya sendiri. Bagas yang hobi membaca dan menulis itu kini mulai lihai membuat aplikasi-aplikasi komputer. Bahkan dia memiliki koleksi komik humor.

“Saya belikan software dan bukunya, dia sudah jalan sendiri. Tdak pernah ada yang mengajari. Memang ini kabar dari langit. Allah sudah memberikan. Siapa pun orangnya, apa pun bentuknya, pasti oleh Allah diberi bekal untuk hari depannya. Tinggal kita sendiri, mau menggali atau tidak.

Kemampuan Bagas memang luar biasa. Politeknik Surabaya bahkan menawari dia menjadi mahasiswa kehormatan untuk belajar 3D di sana.

Menurut Zubaidah, Allah sudah menyediakan bagi anak-anak seperti Bagas bakat yang kalau kita cari bisa melebihi anak lain atau anak normal. ”Jadi, ada celah yang bisa dimaksimalkan,” katanya.

Zubaidah mengakui anaknya belum sembuh betul. Tapi kemampuan komunikasinya dan mutu kehidupannya sudah mengalami peningkatan cukup signifikan beberapa tahun belakangan.

Di akhir perbincangan, Ida berpesan kepada orangtua anak penderita autisme dan masyarakat umum agar anak autis tidak dianggap aneh. Autisme bukan penyakit jiwa, ia hanya gangguan perkembangan jiwa.

”Autisme adalah ujian untuk orangtuanya dan lingkungannya, namun berbuah manis di kemudian hari kelak,” ujarnya.



Sekolah Inklusi

Pemahaman yang sama dimiliki para guru di SDN Inklusi Klampisngasem 1 Surabaya. Sebagai sekolah inklusi, mereka menerima siswa berkebutuhan khusus, termasuk para penyandang autisme dan sindrom autistik.

SDN Klampisngasem 1 menjadi sekolah inklusi sejak 2003. Meski demikian, sekolah ini sejak 1989 sudah menerima siswa berkebutuhan khusus dan pertama kali menerima siswa autis pada 2000.

Di sekolah ini, siswa autis dibagi ke dalam beberapa kelompok. Kelompok paling ringan adalah penyandang autisme yang tidak disertai penurunan kemampuan intelektual (autis gangguan konsentrasi). Pada kelompok berat, autisme dibarengi penurunan kemampuan intelektual atau autis dengan kelainan lain (double handicap).

“Karena jenisnya beragam, pelaksanaan pembelajarannya juga dibedakan,” ujar Dadang Bagoes Prihantono, Koordinator Penyelenggara Pendidikan Inklusi di SDN Klampis Ngasem 1.

Selain mendidik anak, sekolah juga perlu “mendidik” orangtua anak autis. Maklum, masih banyak di antara mereka yang belum memiliki tingkat pemahaman yang benar. Sebagian bahkan malu memiliki anak penyandang autis.

Hal ini terlihat, misalnya, dari para pendamping anak-anak itu. Saat Surabaya Post mengujungi sekolah ini, yang mendampingi anak-anak ini bukanlah orangtua atau keluarga mereka, tapi justru pembantu, baby sitter, atau terapisnya.

Mereka seperti anak yang dititipkan di sebuah pondok pendidikan, yang beberapa saat nantinya orangtua bisa melihat anaknya sembuh secara total dengan biaya yang memang tidak murah.

Digigit, ditendang, dipukul adalah makanan sehari-hari para pendidik anak-anak autis.

”Mereka sulit dikendalikan, susah untuk konsentrasi. Bahkan kalau sudah tantrum atau emosinya meningkat, kadang kami juga kewalahan,” kata Sutrisno, guru autis di SDN Klampis Ngasem 1 Surabaya.

Saat Surabaya Post memasuki salah satu ruangan di kelas khusus, ada beberapa anak yang memeluk gurunya sangat erat seolah tidak mau dilepas. Ada anak yang manja untuk disuapi atau manja minta digendong. Sepertinya mereka jarang memperolehnya di rumah.

Karena itu, lulusan IAIN ini awalnya sempat stress melihat tingkah laku anak didiknya. Tapi itu semua hanya terjadi di bulan-bulan pertama mengajar. Selanjutnya dia mampu mengendalikan pola laku anak didiknya.

Menurut Sutrisno, anak-anak ini bukanlah anak-anak yang aneh. Mereka justru anak-anak istimewa.

Sumber: Surabaya Post

Selanjutnya....

Mencintai Anak Autis - Dulu Susah Kosentrasi Sekarang Pandai Komputer (Bagian 1)


Pada diri Bagas, bocah 13 tahun itu, tidak tampak ”keanehan-keanehan” yang menjadi cap anak autis. Asal tahu saja, bacaan bocah tampan ini tergolong tidak biasa. Sebut saja The Magic Of Macromedia Director yang sempat ia pamerkan kepada SurabayaPost.

Tidak hanya buku-buku tentang dunia teknologi informasi (TI) yang Bagas kuasai, majalah-majalah masakan pun ia tahu. ”Saya yang cewek saja kalah sama dia. Dia sangat hafal resep-resep masakan nasional maupun internasional, sampai ke bumbu-bumbunya” ujar sang kakak, Goldie.

Mengubah anak autis menjadi cerdas, tentu bukan sim salabim. Ini bukan proses semudah membalik telapak tangan.

Hingga usia 3 tahun, Bagas tidak mau ngomong, tidak mau menatap mata, tidak mau dipeluk, dan tidak mau bergaul dengan orang lain. Sebaliknya, dia benar-benar hiperaktif.

“Kalau dia buka kulkas, sudah deh... semua dicampur aduk. Beras dicampur dengan apa, air dicampur dengan apa, TV ditaruh di atas seperti di terminal,” cerita sang Bunda, Zubaidah.

Setahun kemudian, barulah pasangan Amat dan Zubaidah sadar bahwa ada gangguan pada anaknya. Bagas dinyatakan menderita sindrom autistik, bukan autis murni,

”Saya merasa dunia ini gelap setelah informasi dokter tentang diri Bagas. Apalagi saya memiliki riwayat susah memperoleh anak,” kata Zubaidah. Dia sempat down di masa-masa awal itu.

Namun, putus asa tak boleh dipelihara. Bagas pun dibawa ke Jakarta bertemu dengan Prof. Hembing. Bocah 4 tahun itu menjalani terapi tusuk jarum dan detoksifikasi. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan racun-racun atau merkuri dalam tubuh Bagas yang diduga menjadi penyebab autistik tersebut.

”Saya akui banyak mengonsumsi seafood saat mengandung Bagas,” kata Zubaidah.

Selain usaha medis, orangtua Bagas juga melakukan terapi sendiri di rumah agar anaknya tidak benar-benar terisolasi dari lingkungan. Pertama, dia diajari tentang warna.

”Ini sebentuk intervensi karena Bagas sendiri tidak mau mengenal kehidupannya. Dia raja cuek. Asal tahu saja, satu warna itu diperkenalkan dalam rentang waktu satu minggu. Setelah itu, baru saya perkenalkan pada bentuk-bentuk bangunan, alat-alat transportasi,” kata sang mama. ”Saat itu semua benar-benar all out, istilahnya menangis dengan airmata darah karena Bagas benar-benar tidak mau fokus atau konsen,” lanjutnya.

Mendidik anak autis jelas bukan perkara mudah. Apalagi, Zubaidah dan suaminya berpacu dengan waktu. Mereka harus memaksimalkan golden period usia 3-5 tahun. Lepas dari itu, keracunannya sudah menyebar dan kemampuan syarafnya untuk menyerap informasi sanagt lemah.

Agar Bagas bisa konsen, terapi dilakukan dalam sekat kotak yang hanya diisi 2 kursi. Satu untuk bapaknya yang memangku Bagas, satu lagi untuk sang ibu yang bertindak sebagai guru. Saat ibu mengucap warna “merah“, bapaknya membantu meletakkan tangan Bagas pada sarana yang berwarna merah.

“Kami seperti mengajari lumba-lumba. Setelah itu Bagas diberi rewards atas usahanya” lanjut perempuan yang akrab disapa Bu Ida ini.

Usaha terapi Ida dan keluarganya sedikit berhasil ketika Bagas mulai masuk ke TK umum. Tentu saja Ida lebih dulu berkoordinasi dengan guru dan teman-teman Bagas. Termasuk, memberi jaminan bahwa apa pun peralatan yang dirusak Bagas akan ia ganti karena memang demikianlah kondisi anaknya.

“Walau bukan miliknya, Bagas tidak peduli. Apa yang ada di depannya, prinsipnya itu punya dia. Untunglah guru, teman-teman, dan walimurid yang lain sudah paham itu dan malah ngemong Bagas. Teman-temanya selalu cerita ke saya, ‘Tante, penggarisku dipatahkan Bagas’, ‘Tante, crayonku dirusak Bagas’. Saya tidak pernah marah, justru saya senang semuanya bisa diajak koordinasi untuk kemajuan anak saya,” tambah Ida yang memang mengaku menjadi orang tua istimewa karena dikaruniai anak yang istimewa.



Bukan Rahasia

Bagi Zubaidah, sindrom autistik yang diderita anaknya bukanlah rahasia. Malah, dia selalu menjelaskan tentang keadaan anaknya. Dia yakin sindrom autistik bukan kartu mati.
Sindrom ini hanya membuat penderitanya merasa tidak butuh apa pun. ”Kami menggiringnya bahwa dia butuh teman, butuh komunikasi. Kalau dia banyak input, maka output juga banyak,” kata Zubaidah.

Maka, pontang pantinglah dia seperti orang gila. Setiap informasi apa pun, termasuk produk-produk tertentu, logo-logo tertentu, lambang negara-negara dan lainnya, dia gunting dan dia kenalkan pada Bagas berulang-ulang.

Kini, semua tinggal kenangan. Bocah istimewa itu kini tumbuh remaja. Ketabahan dan keteguhan keluarganya membuat Bagas menjadi manusia mandiri yang mampu mengatur dirinya sendiri. Bagas yang hobi membaca dan menulis itu kini mulai lihai membuat aplikasi-aplikasi komputer. Bahkan dia memiliki koleksi komik humor.

“Saya belikan software dan bukunya, dia sudah jalan sendiri. Tdak pernah ada yang mengajari. Memang ini kabar dari langit. Allah sudah memberikan. Siapa pun orangnya, apa pun bentuknya, pasti oleh Allah diberi bekal untuk hari depannya. Tinggal kita sendiri, mau menggali atau tidak.

Kemampuan Bagas memang luar biasa. Politeknik Surabaya bahkan menawari dia menjadi mahasiswa kehormatan untuk belajar 3D di sana.

Menurut Zubaidah, Allah sudah menyediakan bagi anak-anak seperti Bagas bakat yang kalau kita cari bisa melebihi anak lain atau anak normal. ”Jadi, ada celah yang bisa dimaksimalkan,” katanya.

Zubaidah mengakui anaknya belum sembuh betul. Tapi kemampuan komunikasinya dan mutu kehidupannya sudah mengalami peningkatan cukup signifikan beberapa tahun belakangan.

Di akhir perbincangan, Ida berpesan kepada orangtua anak penderita autisme dan masyarakat umum agar anak autis tidak dianggap aneh. Autisme bukan penyakit jiwa, ia hanya gangguan perkembangan jiwa.

”Autisme adalah ujian untuk orangtuanya dan lingkungannya, namun berbuah manis di kemudian hari kelak,” ujarnya.

Sumber: Surabaya Post

Selanjutnya....

Mencari Anak Berkebutuhan Khusus


Tidak ada kesejarahan yang menyebabkan keterlibatannya dengan dunia orang-orang berkebutuhan khusus, kecuali latar belakang kuliahnya di IKIP Yogyakarta, Jurusan Pendidikan Luar Biasa. Tidak banyak pula orang yang berusaha menampilkan orang-orang berkemampuan khusus ini secara massal dalam sebuah gerakan.

Orang yang melibatkan diri dalam dunia orang-orang berkebutuhan khusus dalam satu kehebohan massal itu adalah Ciptono.

Kehebohan terjadi pada suatu hari di tahun 2002. Pada hari itu, jalan-jalan protokol Kota Semarang dipadati arak-arakan mereka yang berkebutuhan khusus, mulai dari tunanetra, tunarungu, tunadaksa, dan tunagrahita. Mereka berjalan perlahan, merayap di atas kursi roda bersama orangtua dan guru-guru sekolah luar biasa. Hari itu sekan-akan menjadi "hari mereka yang berkebutuhan khusus".

"Tujuan saya mengadakan acara bagi mereka yang berkebutuhan khusus itu tidak lain untuk mencari bakat-bakat terpendam yang ada pada diri mereka. Ternyata saya memang bisa menemukan bakat-bakat mereka," kata Ciptono.

Dia mengenang kiprahnya di balik penyelenggaraan acara bertajuk "Lomba Jalan Sehat Keluarga Pendidikan Luar Biasa" itu.

Pria kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, ini ditemui di Jakarta pekan lalu seusai menerima penghargaan ISO 2009 di Lampung.

Ciptono lalu menjelaskan latar belakang diadakannya acara jalan sehat itu. Acara tersebut diselenggarakan agar para siswa berkebutuhan khusus bisa tampil lebih percaya diri di tengah masyarakat. Prinsipnya, kata Ciptono, ?Mereka (berkebutuhan khusus) tidak perlu dikasihani, tetapi harus diberi kesempatan.?

Maka, acara itu kemudian digunakan sebagai kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk menampilkan kemampuannya, di bidang seni maupun keterampilan.

Dari acara terbesar pertama di Semarang bagi mereka dengan kebutuhan khusus ini ditemukanlah Delly Meladi, penyandang tunanetra bersuara merdu yang mampu menghafal lebih dari 1.000 lagu. Penyandang tunanetra lainnya, Mega Putri, ditemukan sebagai pembaca puisi. Ada lagi Bambang Muri, penyandang tunagrahita, yang sama seperti Delly pandai bernyanyi.

Ciptono tidak menyangka bahwa kegiatan jalan sehat itu telah melahirkan efek domino yang baik bagi perubahan mereka dengan kebutuhan khusus. Selain bisa muncul dari panggung ke panggung, suara mereka juga direkam dalam bentuk kaset atau video compact disc (VCD).

Sampai sekarang Ciptono telah menghasilkan lima VCD dan satu kaset. Salah satunya adalah VCD yang dikeluarkan Badan Koordinasi Pendidikan Luar Biasa Jawa Tengah berlabel Keplok Ora Tombok (ikut bersenang-senang tanpa membayar).

VCD itu menampilkan Delly, Mega, dan Bambang. Penari latar yang mengiringi ketiga penyanyi itu pun berasal dari siswa-siswi SMALB C/D1 YPAC Semarang.

"Pokoknya semua yang terlibat di dalamnya adalah anak-anak berkebutuhan khusus," kata Ciptono.

Orangtua mampu

Setelah lulus dari Universitas Negeri Yogyakarta (dulu bernama IKIP Yogyakarta) tahun 1987, Ciptono langsung mengajar di SLB Wantu Wirawan Salatiga dengan gaji Rp 5.000 per bulan plus Rp 700 untuk uang transpor.

Dia berkisah, uang sebesar itu habis dalam waktu lima hari saja. Untunglah, karena orangtuanya terbilang mampu, ongkos transportasi sehari-hari ditanggung ayahnya, Jayin Hartowiyono. Sementara sang ibu, Suntianah, menyerahkan semua keputusan untuk tetap mengajar di SLB kepada Ciptono.

Dia mengaku, jiwa sosial untuk menolong anak-anak berkebutuhan khusus itu muncul sejak lulus SMA tahun 1982.

"Maunya lulus Fakultas Kedokteran UGM karena saya bercita-cita menjadi dokter. Tetapi, karena diterimanya di IKIP Jurusan Pendidikan Luar Biasa, ya saya harus mengajar di SLB,? katanya.

Meski orangtuanya cukup berada karena memiliki armada bus Gotong Royong dan Hidayah di kota kelahirannya, Salatiga, saat masih kanak-kanak Ciptono dititipkan kepada neneknya dengan pendidikan ?keras?. Ia mengaku, neneknyalah yang mendidiknya untuk mencintai sesama, khususnya mereka yang tidak mampu dan berkekurangan.

"Boleh dibilang saya dilatih (Nenek) untuk tidak tegaan," katanya.

Tahun 1989 ia mengajar Pendidikan Sejarah dan Perjuangan Bangsa dan dasar-dasar pendidikan luar biasa di pendidikan guru agama negeri. Pada tahun itu juga ia menjadi calon pegawai negeri sipil SLB C YPAC Semarang. Dari keseringannya bergaul dengan mereka yang berkebutuhan khusus, Ciptono mulai menemukan kenyataan bahwa di antara anak-anak itu ada yang memiliki bakat khusus.

Misalnya, ia menemukan Andi Wibowo, penyandang tunagrahita yang mampu menggambar dengan menggunakan dua tangan secara bersamaan. Andi ?hanya? memiliki IQ 60, di mana umumnya, menurut Ciptono, anak-anak itu ber-IQ 90.

Untuk memunculkan anak-anak berkebutuhan khusus yang punya kemampuan khusus, ada saja acara yang dia ciptakan setiap tahun, mulai dari donor darah, halalbihalal, sampai merayakan Natal. Semua acara itu selalu melibatkan siswa-siswi berkebutuhan khusus. Sampai-sampai saat mereka tampil di sebuah mal pada 19 Desember 2008, banyak orang tidak percaya bahwa itu suara asli mereka yang berkebutuhan khusus.

?Mereka tahunya itu suara pura-pura atau tiruan, bukan suara mereka yang sebenarnya. Padahal, itu asli suara mereka dengan kebutuhan khusus, mulai dari tingkat SD sampai SMA,? tutur Ciptono.

Tujuh rekor

Atas prestasinya memberdayakan anak-anak berkebutuhan khusus, Ciptono yang pada 2003 menyabet juara I Lomba Mengarang dan Pidato Antarguru SLB se-Jawa Tengah itu mendapat berbagai penghargaan dari dinas pendidikan sampai Departemen Pendidikan Nasional.

Ia juga memperoleh tujuh rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) atas kepeduliannya kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Penghargaan lainnya adalah sebagai guru SLB berdedikasi tinggi dari dinas pendidikan setempat pada tahun 2003. Tahun 2005 ia menerima penghargaan sebagai guru berdedikasi tinggi dari Mendiknas Bambang Sudibyo, dan tahun 2006 menjadi juara guru kreatif.

Agustus 2008 Ciptono menyabet juara pertama lomba manajemen pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus tingkat nasional.

"Saya mendapat hadiah Rp 10 juta dari Gubernur Jawa Tengah atas prestasi ini," kata Ciptono yang tiga kali mendirikan SLB, yakni SLB Hajjah Sumiati, SD Bina Harapan, dan belakangan ini ia membuka sekolah di garasi untuk anak-anak berkemampuan khusus.

Jabatan formal Ciptono adalah Kepala Sekolah SLBN Semarang yang membawahkan 60 karyawan dan guru. Sepuluh di antaranya sudah menjadi pegawai negeri sipil, sedangkan selebihnya masih sebagai tenaga honorer.

Uniknya, 20 persen karyawannya itu haruslah dari anak-anak berkebutuhan khusus. Sekarang ini, misalnya, dikaryakan dua penyandang tunadaksa, dua penyandang tunarungu, dan satu penyandang tunanetra.

"Asisten guru pun diangkat dari anak-anak berkebutuhan khusus ini," kata Ciptono menambahkan.

Selanjutnya....

E-Book Gratis dan Koran Gratis


Download Buku Gratis



http://www.ebookee.com/
http://www.free-ebooks.net/
http://www.freetechbooks.com/
http://www.openbookproject.net/books/
http://avaxsphere.com/ebooks
http://morefreeebooks.net/

Koran Nasional ePaper

Kompas ePaper
Kontan ePaper
Koran Tempo ePaper

Koran Nasional Online

Bisnis Indonesia
Indopos
Investor Indonesia
The Jakarta Post
Jawa Pos
Kedaulatan Rakyat
Kompas
Koran Tempo
Media Indonesia
Pikiran-Rakyat
Republika
Seputar Indonesia
Sinarharapan
Suara Pembaruan

Majalah

Gatra
Swa
Tempo
Warta Ekonomi

Berita Online

BBC Indonesia
Detik.com
Indonesia News
Metro TV News
Oke Zone



Semoga Bermanfaat
Selanjutnya....

Bahasa Pohon Selamatkan Bumi


Banyak cara dapat kita lakukan untuk menyelamatkan Bumi yang kian rapuh. Salah satunya dengan menanam pohon, sang primadona efek pemanasan Bumi, penyelamat lingkungan.

Pohon adalah salah satu keajaiban alam terhebat. Semua ajaran agama dengan tegas menempatkan pohon menjadi simbol dan sumber kehidupan manusia. Relief-relief di Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan candi-candi lain melukiskan pohon dalam kehidupan kita. Sakral dan romantis. Cinta dan kedamaian terukir dengan menanam pohon dan segala aktivitas kehidupan di bawah pohon. Kebencian dan anarki dilukiskan dengan menebang pohon.

Pohon adalah pembentuk ruang paling dasar (akar dan tanah = lantai, batang = tiang, ranting dan daun = atap) yang menciptakan keteduhan agar manusia dapat melakukan aktivitas di bawahnya. Sang Buddha Gautama merenung hening di bawah pohon Bodi (Ficus religiosa). Para murid yang sekolahnya ambruk tetap dapat belajar di bawah kerindangan pohon.

Bumi dan perempuan adalah satu. Kata bumi sendiri berkonotasi perempuan. Bumi tempat pohon berpijak menghujamkan akarnya. Bumi, pohon, dan perempuan menginspirasi Sutradara Garin Nugroho untuk membuat film terbarunya berjudul Under The Tree. Bagi Garin, pohon mempunyai banyak makna yang menjadi bagian tak terlupakan dalam kehidupan semua orang di Bumi. Pohon dan perempuan juga telah mendorong Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Sepuluh Juta Pohon (1/12/2007) untuk menyelamatkan Bumi.

Pohon Beringin (Ficus benjamina) dipilih sebagai lambang Persatuan Indonesia, sila ketiga Pancasila. Pohon kalpataru (Barringtonia asiatica), pohon kehidupan, dijadikan simbol penghargaan bagi pahlawan pelestarian lingkungan hidup. Meski bukan partai hijau, sebuah partai politik besar justru memakai lambang pohon beringin untuk mencitrakan partai yang memberi keteduhan kepada rakyat.

Pusat-pusat kota di Jawa ditandai dengan dua pohon beringin kurung di alun-alun sebagai titik nol kota. Pohon kamboja (Plumeria alba) banyak ditanam di pura-pura suci di Bali atau di tanah pemakaman di Jawa.

Sebutan kota-kota kita juga ada yang berasal dari ciri khas pohon-pohonnya, seperti Semarang (pohon asam yang ditanam jarang-jarang), Bogor yang identik dengan pohon kenari. Begitu pula sejumlah kawasan di Jakarta, dulu Sunda Kelapa (Cocos nucifera), kawasan Menteng (Baccaurea recemosa), Cempaka Putih (Michelia alba), Karet (Ficus elastica), Kemang (Mangifera caecea), Kelapa Gading (Cocos capitata), Kapuk (Ceiba petandra), Kosambi (Schleichera oleosa), atau Kebayoran (Bayur = Pterospermum javanicum).

Tetapi pohon-pohon kini merana karena tumbang ditiup angin atau ditebangi tanpa terkendali. Padahal, pohon wajib dilindungi dan dilestarikan apa pun alasannya. Menebang pohon sama saja mempercepat ajal kita.

Pada era pemanasan Bumi dan berbagai bencana alam (banjir, tanah longsor, pencemaran udara, krisis air) terjadi, gerakan penanaman pohon besar yang lebih banyak lagi merupakan hal mutlak. Pohon berjasa menahan air dalam tanah, mencegah erosi dan longsor, menjadi habitat bagi beragam makhluk hidup, memproduksi oksigen, menyerap karbondioksida—gas rumah kaca penyebab pemanasan global—menyaring gas polutan, meredam kebisingan, angin dan sinar matahari, dan menurunkan suhu kota.

Menanam pohon sebenarnya berbicara tentang kearifan konsumsi-investasi, menjamin kelangsungan lingkungan hidup warga dan kota. Selalu ada alternatif penyelesaian cerdas dalam membangun kota tanpa harus menebangi pohon jika kita mau berpikir panjang. Seluruh warga hendaknya berpartisipasi menggerakkan lompatan besar menghijaukan kota melawan proses penggurunan kota (hutan beton).

United Nations Environment Programme (UNEP, 2007) berkampanye ”Plant for the Planet: Billion Tree Campaign”, sebagai salah satu upaya memulihkan kondisi Bumi dari pemanasan global melalui gerakan menanam pohon (http://www.unep.org/billiontreecampaign). Di kita, gerakan penghijauan masih sekadar seremonial belaka. Terbengkalai, tidak dipelihara, dan mati.

Menanam pohon ada aturannya, tidak asal tanam. Penanaman pohon mensyaratkan kecocokan jenis pohon (pantai, dataran rendah, pegunungan), fungsi (ekologis, ekonomis, estetis), ketepatan cara (standar keamanan dan keselamatan), waktu penanaman, penyediaan, pemilihan, dan pendistribusian (dalam jumlah besar), serta pemeliharaan pascatanam. Penanaman harus memerhatikan segi estetika arsitektural, lanskap visual kota, peran maksimal terhadap lingkungan, aman terhadap konstruksi, batang tak mudah patah, dan berumur panjang (ratusan tahun).

Pohon-pohon pengikat tanah dan penyimpan air tanah ditanam di lahan kritis yang rawan longsor dan erosi. Pohon bakau memagari kawasan tepian pantai hingga menyusup ke jantung kota melalui bantaran kali untuk mencegah intrusi air laut, menahan abrasi pantai, menahan air pasang, angin dan gelombang besar dari lautan lepas, mencegah pendangkalan dan penyempitan badan air, menyerap limpahan air dari daratan (saat banjir), menetralisasi pencemaran air laut, dan melestarikan habitat tiga ekosistem hutan bakau yang kaya keanekaragaman hayati.

Jenis pohon tertentu terpilih sebagai pohon penyelamatan (escape trees) yang ditanam di sepanjang jalur evakuasi bencana (escape route) menuju taman atau bangunan penyelamatan (escape building) lainnya. Penanaman pohon besar di sepanjang jalur hijau jalan, jalur pedestrian, bantaran rel kereta api, jalur tegangan tinggi, serta jalur tepian air bantaran kali, situ, waduk, tepi pantai, dan rawa-rawa akan membentuk infrastruktur hijau raksasa yang berfungsi ekologis. Kota pohon memberi keteduhan pada pejalan kaki dan penunggang sepeda.

Berbagai penelitian membuktikan, 1 hektar ruang terbuka hijau (RTH) yang dipenuhi pohon besar menghasilkan 0,6 ton O2 untuk 1.500 penduduk/hari, menyerap 2,5 ton CO2/tahun (6 kg CO2/batang per tahun, menyimpan 900 m3 air tanah/tahun, mentransfer air 4.000 liter/hari, menurunkan suhu 5°C-8°C, meredam kebisingan 25-80 persen, dan mengurangi kekuatan angin 75-80 persen. Setiap mobil mengeluarkan gas emisi yang dapat diserap oleh 4 pohon dewasa (tinggi 10 m ke atas, diameter batang lebih dari 10 cm, tajuk lebar, berdaun lebat).

Pemerintah perlu menyurvei ulang, mendeteksi tingkat kesehatan dan keamanan, serta mengambil tindakan perawatan, pemeliharaan, dan asuransi pohon. Unit reaksi cepat perlu tanggap memberi pertolongan darurat, memangkas pohon sakit atau rawan tumbang, menyingkirkan pohon tumbang, mengangkut, dan mengolah sampah pohon, serta didukung standar kinerja, kompetensi pekerjaan, sertifikasi tenaga pengawas, dan pelaksana pemeliharaan pohon. Ini agar warga kota tidak paranoid, takut pohon tumbang saat musim hujan tiba atau ada angin puting beliung.

Pemerintah bersama masyarakat dapat memelihara dan melindungi pohon. Kita dapat mengadopsi dan menjadi orang tua angkat pohon-pohon besar di depan rumah.

Ada beberapa pohon yang layak tanam untuk kota besar seperti Jakarta, yaitu pohon trembesi/Ki Hujan (Samanea saman), asam (Tamarindus indica), mahoni (Swietenia mahogani), tanjung (Mimusops elengi), atau bintaro (Cerbera manghas). Selain itu, pohon buah-buahan yang menarik bagi burung dan tupai dapat pula ditanam di lingkungan rumah kita, seperti pohon mangga (Mangifera indica), sawo kecik (Manilkara kauki), rambutan (Nephelium lappaceum), nangka (Artocarpus integra). Kawasan pantai dapat ditanami waru laut (Hibiscus tiliaceus), cemara laut (Casuarina equisetifolia), nyamplung (Calophyllum inophyllum), ketapang (Terminilia cattapa).

Kita tidak akan pernah dapat menghargai pohon selama kita tak pernah mendengarkan bahasa pohon. Seperti pepatah bijak dari China 500 SM, ”jika engkau berpikir untuk satu tahun ke depan, semailah sebiji benih, jika engkau berpikir untuk sepuluh tahun ke depan, tanamlah sebatang pohon”. Ingat pula, kata Al Gore, ”Plant trees, Lots of trees,” (An Inconvenient Truth, Al Gore, 2007).

Selanjutnya....

Selamatkan Bumi dari Plastik


DIPERKIRAKAN, 500 juta hingga satu miliar kantong plastik digunakan di dunia tiap tahunnya. Jika sampah-sampah ini dibentangkan, dapat membungkus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat! Di Bandung sendiri, volume sampah plastik per harinya mencapai 700 meter kubik. Bisa menutupi 50 lapangan sepakbola sekaligus!

Yang jadi persoalan, dampak negatif sampah plastik ternyata sebesar fungsinya. Di alam, sampah plastik berbahan konvensional dari polimer sintetik tidak mudah terurai oleh organisme. Dibutuhkan waktu 300-500 tahun agar bisa terdekomposisi atau terurai sempurna. Sebuah waktu yang sangat lama. Akibatnya, di banyak tempat, plastik menjadi sumber masalah. Menyumbat saluran air, tanggul, sehingga mengakibatkan banjir bahkan yang terparah merusak turbin waduk.

Dampak negatif kantong plastik atau ”tes kresek” terhadap kesehatan tidak kalah mengerikan. Berdasarkan penelitian I Made Arcana, dosen kimia Institut Teknologi Bandung, zat pewarna hitam yang umumnya ada di kantong plastik berbahaya bagi kesehatan. Zat ini kalau terkenas panas dapat terdegrasi dan mengeluarkan zat yang menjadi salah satu pemicu kanker. Maka, dianjurkan tidak menaruh gorengan atau makanan panas lainnya langsung di kantong plastik.

Lantas, apa solusinya mengatasi persoalan kantong plastik? Yang pasti, jangan pernah mencoba membakarnya. Jika proses pembakarannya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi.

Seperti diungkapkan angggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPLKTS) Sobirin, pengolahan sampah menjadi solusi terbaik. Jika rumah tangga atau komunitas terkecil di lingkungan belum bisa mengolahnya, didaur ulang, maka pemilahan menjadi langkah kecil terbaik.

”Jika memang belum bisa, apa ya terpaksa gali kembali kearifan lokal macam penggunaan pincuk (daun pisang)?”, ucapnya.

Dilarang di China dan Australia

Keprihatinan Sobirin sangatlah beralasan. Menurut dia, di Indonesia, tidak lebih 10 persen warga yang peduli lingkungan. Apalagi, peduli terhadap dampak negatif sampah plastik. Meski demikian, ia optimis, melalui edukasi, sosialisasi, dan kampanye, masyarakat lambat laun akan tergugah. Ini tidak terlepas dari pentingnya peranan pemerintah.

”Wali Kota Bandung misalnya, perlu mendukung lewat kebijakan pelarangan penggunaan kantong plastik di supermarket,” ungkapnya.

Di negara maju, kampanye penggunaan kantung plastik mendapat dukungan dari negara. Salah satunya, China. Mulai Juni 2008 ini, seluruh supermarket dan toko-toko di Cina dilarang memberikan kantung plastik gratis kepada konsumen. Pembeli dianjurkan memakai keranjang sebagai pengganti. Namun, hebatnya, sinergi dengan hal itu, berbagai industri polimer di China gencar mengembangkan plastik biodegradable (dapat terurai).

Banyak jenis polylaktida (plastik berbahan dasar selulosa) dikembangkan. Salah satunya yaitu ”SmartPlast Bag” yang berlogo ramah lingkungan. Plastik berpenampilan layaknya keresek normal berwarna putih ini terbuat dari tajin jagung. Di alam, plastik ini dapat terurai hanya dalam waktu setengah tahun tanpa dampak negatif apa pun. Langkah ini diikuti di Australia.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia, khususnya Kota Bandung? Terlalu naïf jika mengharapkan hal yang sama dengan Australia dan China. Namun, sinyalemen positif mulai ditunjukkan sejumlah pelaku usaha di Bandung. Di Carrefour, saat ini disediakan tas belanja khusus pengganti kresek. Harganya Rp 10.000 per kantong. Kalau rusak, bisa ditukarkan.

Terlepas dari upaya itu, seperti diungkapkan novelis Dewi Lestari, semuanya akan berpulang kepada individu manusia. Kesadaran diri-lah yang menentukan. Lingkungan, satu-satunya aspek di dunia yang bisa menyatukan berbagai latarbelakang manusia dan negara. Mari bersatu menyelamatkan ”rumah” kita.


Sumber : kompas.com

Selanjutnya....

Senin, 06 April 2009

Semakin Cerdas Semakin Panas

Semakin Cerdas, Semakin Panas

“Kalau Einstein lagi berpikir keras maka ia pun terserang demam…….!”

Sensasi ini selalu ditiup- kobarkan oleh beberapa suratkabar, tatkala ahli fikir Fisika Matematika ini mulai ramai diperbincangkan orang. Namun bagi para fisiolog dan psikolog, hal itu tidak begitu mengejutkan.


Banyak para pemikir yang tekun, cepat menjadi panas dalam pekerjaannya. Siswa-siswa yang cerdaspun, badannya lekas panas, ketika perhatian telah tertumpu sepenuhnya pada suatu persoalan baru yang menarik hatinya. Makin pintar, makin panas. Makin Bodoh, makin dingin………!

Timbul pertanyaan, apa yang akan kita lakukan seandainya ternyata badan tak mau panas dengan sendirinya, sewaktu menghadapi suatu pekerjaan? Perlukah digosok-gosok terlebih dahulu seluruh permukaan badan supaya panas ? Ataukah pasrah begitu saja menerima kenyataan pahit bahwa memang kita ini bodoh seumur hidup dan dingin?

Berbagai jawaban dilontarkan orang. Tapi jawaban-jawaban tersebut sarat dengan berbagai kekecualian. Ada memang orang yang idiot, otaknya beku dan dingin. Tapi, disamping itu juga banyak orang yang hanya “merasa” lalu percaya saja bahwa mereka tidak akan bisa lagi panas, padahal belum pernah mencobanya.

Walter B. Pitkin dalam bukunya “U Kunt Veel Dan U Denk” (Bagaimana melipatgandakan kesanggupan anda) menawarkan satu alternatif, yaitu “Warming Up”. Tujuan utama pemanasan ini ialah menajamkan perhatian. Ini berarti, membuang segala pikiran yang dapat mengganggu, yang mungkin timbul dari aktivitas sebelumnya. Saat itu terjadilah “penyetelan” pikiran diarahkan lebih tajam dan perhatian lebih terpusat. Mata mulai diarahkan, letak dan sikap kaki, lengan, tangan dan jari-jaripun diatur. Pikiran tertuju dan menuju pada pekerjaan yang baru itu. Segala “ide mendadak” ditunda terlebih dahulu, karena itu akan membuyarkan konsentrasi. Tahan diri untuk tidak melakukan “hal hal kecil”, seperti mencari-cari buku referensi, penggaris, dan sebagainya. Kan bisa disiapkan sebelumnya? Pendek kata, bersikaplah bagai prajurit yang tengah bertarung di medan pertempuran. Tiada alasan untuk permisi sebentar menjemput bedil yang tertinggal dimarkas, sementara bayonet telah mengancam didepan hidung.

Persoalan yang tampaknya sederhana ini ternyata juga menarik perhatian E.B. Skaggs, seorang guru besar dari College of Detroit. Bukan luar biasa bila kemudian ia mencurahkan segala perhatiannya terhadap persoalan ini selama tiga tahun. Dan, sebagai hasilnya, inilah sarannya: Bila anda pada dasarnya sukar dan lambat menyesuaikan diri (kurang adaptif) dengan suatu tugas tertentu, maka usahakan mengasyiki pekerjaan tersebut agar anda cepat menjadi panas. Begitu pula, sebelum anda memulai pekerjaan, sebaiknya istirahatkan dulu otak barang sebentar, daripada nanti harus menunda pekerjaan akibat letih. Kelelahan bakal menyita segenap perhatian dan konsentrasi anda. Kemudian bila anda bekerja kurang bersemangat, tak ada kemauan, tahanlah diri untuk terus bekerja . Jangan beri kesempatan untuk “mengiyakan” perasaan malas tersebut. Dengan bekerja terus berarti anda menambah kapasitas diri sendiri. Dan, yang lebih penting, pekerjaan anda semakin lancar.

Bukan monopoli Orang Jenius

Badan yang panas tentu disebabkan pembakaran tubuh yang sedemikian cepat sehingga arus syaraf pun dipercepat. Pada suhu biasa kecepatan itu kira-kira 135 meter per detik. Tapi jika badan didinginkan sedemikian rupa hingga syaraf boleh dibilang tidak bekerja sama sekali, lalu diukur kecepatannya dengan memanaskannya berangsur-angsur, setiap kenaikan 10 derajat Celcius arus itu menjadi dua kali lebih cepat. Dengan kata lain, kenaikan temperatur satu derajat, arus syaraf akan dipercepat 10%.

Kenyataan ini sangat penting artinya. Terutama menyangkut kegiatan yang serba rumit, berpikir-keras, misalnya. Si pemikir boleh dibilang harus menempuh ribuan meter urat syaraf sebelum mencapai inti pemecahan persoalannya. Tata syaraf pusat mengandung berbiliun-biliun sel. Semuanya mempunyai cabang-cabang yang panjang nya mencapai beberapa meter, disamping berbiliun-biliun sel lainnya yang mempunyai cabang lebih pendek.

Untuk memecahkan masalah yang mudah semisal membagi angka 5.677 dengan 13, misalnya, diperlukan kiriman arus sepanjang beberapa ribu meter serabut syaraf. Orang yang tangkas, terbiasa dan berpengalaman, membutuhkan waktu lebih sedikit ketimbang yang kurang cerdas. Percobaan yang telah dilakukan di Jerman makin membuktikan hal ini. Bahkan dalam rapat perhimpunan Elektrokimia, O.H. Caldwell mengucapkan kata-kata, “Di kemudian hari kelak, pemanasan elektrik dari otak manusia akan menjadikan kita malaikat-malaikat!” Namun, tampaknya ini masih angan yang terlalu muluk.

Sayang sekali, kita kurang banyak yang menyadari kekuatan yang ada dalam diri kita sendiri. Yang kita kenal baru sedikit dari realitas yang sebenarnya. Sebetulnya patut kita berbangga dan bersyukur kepada Allah SWT atas kemampuan yang ia anugerahkan pada diri kita. Otak kita kini ternyata mampu menampung informasi 2,5 juta kali lebih banyak dari komputer terbesar didunia sekalipun.

Ada sedikit lagi pertanyaan lain. Apa sebenarnya perbedaan kita dengan tokoh-tokoh jenius seumpama Einstein dan kawan-kawannya itu? Dr. Rudolph Wagner, membuktikan bahwa otak kita hampir semuanya sama. Jadi sesungguhnya tak ada perbedaan teknis antara otak Anda dan otak Albert Einstein. Yang memang kurang kita miliki adalah keinginan belajar dan berfikir yang menyala-nyala, seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang jenius itu. Dan lagi pula sebetulnya kreativitas itu bukanlah hanya milik segelintir pribadi-pribadi seperti Mozart, Rembrandt, Newton, dan Einstein saja. Kita semua juga memilikinya kok. Sayangnya kita tak mengaktifkannya. Bagaimana menurut Anda?
Selanjutnya....

Waktu Sholat

Waktu Sholat

Kurs Mata Uang BCA

Folder

Open all | Close all

Yahoo! Messenger

 

Copyright © 2009 by Ocean Blue